Kamis, 23 Oktober 2014

Apakah Anda termasuk Sandwich Generation?

Sandwich Generation adalah mereka yang saat ini terjepit oleh dua misi dengan tangung jawab yang besar: merawat orang tua dan anak-anak sekaligus. Sayangnya, dengan dua tanggung jawab tersebut, ada satu misi lain yang kita korbankan: masa pensiun kita sendiri.
Ya, saat ini perencanaan masa pensiun belum menjadi prioritas, karena masyarakat lebih memilih untuk membiayai pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga dan juga untuk menyokong kehidupan orang tua secara finansial. Plus, hampir semua masyarakat Indonesia juga hanya mengandalkan dana tunai seperti tabungan untuk membiayai masa pensiun, tanpa mempertimbangkan gerusan inflasi yang akan meningkatkan ongkos hidup di masa mendatang.
Berdasarkan survey kami*, orang yang sudah menyiapkan pensiun berpikir tabungan dana pensiun mereka cukup untuk memenuhi kebutuhan masa pensiun mereka selama 16 tahun. Faktanya, hanya cukup untuk 7 tahun! Lalu, bagaimana jika kita tidak menyiapkannya sama sekali?
Usia harapan hidup orang Indonesia semakin panjang, sehingga ada kemungkinan semakin besar pula beban mereka yang harus membiayai orangtua dan pada saat bersamaan harus membiayai diri mereka sendiri pada saat pensiun. Jika saat ini biaya kesehatan saja sudah mahal, apalagi 10-20 tahun lagi. Hal ini semakin menekan beban para Sandwich Generation.
Jadi, bagaimana cara untuk membebaskan diri dari himpitan dua kepentingan ini? Mulailah dengan mengevaluasi segala pengeluaran kita dan kebutuhan kita di masa pensiun nanti, rencanakanlah pensiun Anda sendiri agar Anda tidak menjadi beban anak Anda sehingga mereka akan menjadi generasi Sandwich juga seperti Anda. Temuilah ahli perencanaan keuangan yang dapat membantu memberikan solusi terbaik bagi Anda dan keluarga sesuai dengan kebutuhan Anda.
*Manulife Investment Sentiment Index Wave 6 2014
(yap/adapted from www.manulife-indonesia.com/infographic credit:manulife)

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kebun Mental

Salah satu prinsip terkuat di jagat raya adalah "hukum tarik-menarik". Hukum ini mengatakan bahwa Anda adalah magnet hidup. Pemikiran Anda menciptakan suatu medan energi yang kuat yang memancar keluar dan menarik orang-orang dan keadaan ke dalam hidup Anda, sesuai dengan pemikiran Anda itu. Setiap pemikiran yang Anda miliki, diemosionalkan dengan satu atau lain cara, positif atau negatif menjadi realitas Anda.
Segala sesuatu yang hebat dan berharga dalam hidup manusia adalah akumulasi dari ratusan, jika bukan ribuan, usaha-usaha dan pengorbanan kecil yang hanya dilihat atau dihargai oleh sedikit orang. Maka untuk berhasil mencapai apapun tujuan finansial maupun pribadi Anda, formulanya tidak lain adalah; Anda harus melakukan banyak usaha kecil yang tidak dilihat atau dihargai oleh seorangpun sebelum Anda mendapatkan sesuatu yang berharga. Jangan mengharapkan imbalan atau pujian awal atas jerih payah Anda, karena pada saatnya itu akan terbayar lunas. Sebuah bola salju dimulai dari amat kecil, namun saat menggelinding kedepan, ia tumbuh dan berakumulasi pada saat menambahkan jutaan butiran salju kecil ke massanya. Segera ia tak tertahankan lagi dan menyapu apapun di depannya.
Maka, menjadi perlu untuk "mengotori" tangan Anda dengan berbagai pengalaman. Karena, pondasi penguasaan berbagai bidang didasarkan pada pengenalan "pola". Ini adalah kemampuan individu untuk "menghubungkan titik-titik" ketika menghadapi situasi yang mirip dengan situasi sebelumnya. Semakin berbeda situasi yang dialami seseorang, semakin banyak pola yang direkamnya dan semakin cepat ia dapat menghasilkan keputusan pada saat sesuatu yang baru atau berbeda muncul.
Lalu bagaimana memulainya? Jangan menyia-nyiakan waktu! Karena setiap tindakan positif dan berguna yang Anda lakukan akan menjadi sisi plus buku besar Anda. Jika Anda menghabiskan lebih banyak waktu menonton televisi, atau membunuh waktu dengan aktivitas lain yang nilainya rendah atau tak bernilai, semua ada artinya juga, namun ini akan berada di sisi negatif buku besar. Seperti halnya perusahaan sukses yang memiliki neraca positif, Anda memiliki neraca juga. Anda menciptakan kehidupan yang hebat bagi diri Anda jika Anda mengakumulasikan lebih banyak poin di sisi kredit daripada di sisi debet. Dan seperti dalam akuntansi keuangan, semuanya berarti!
Maka, tanamlah dalam kebun mental Anda, hanya benih yang Anda inginkan tumbuh di dunia sekitar Anda. "Work hard in silence, let your success make the noise!"
(yap/#berbagidaribuku#perspectivedoesmatter#/photo credit: google)

Rabu, 15 Oktober 2014

Semua Datang dari Pikiran


Bagaimana Anda menggunakan pikiran Anda menentukan segala keberadaan Anda atau apa yang akan terjadi kelak. Dengan kata lain, Anda sebenarnya adalah suatu pikiran dengan tubuh untuk membawa pikiran itu. Segala sesuatu di dunia buatan manusia itu dimulai dari suatu ide. Segala sesuatu yang Anda lihat di sekitar hanyalah suatu ekspresi pemikiran. Seluruh kehidupan Anda adalah ekspresi pemikiran Anda sendiri. Dan karena kualitas pemikiran Anda menentukan kualitas hidup Anda, jika Anda memperbaiki kualitas pemikiran Anda maka dengan sendirinya Anda memperbaiki kualitas hidup Anda.

Saat Anda mulai berfikir bahwa diri Anda mampu mencapai semua sasaran finansial dan pribadi Anda dan terus mencari jalan untuk mewujudkannya, maka seluruh sikap Anda terhadap diri sendiri dan kemungkinan Anda akan berubah lebih baik.

Segera setelah Anda memahami "prinsip" ini, maka semua yang dapat dikandung dan diyakini pikiran Anda akan menjadi mungkin bagi Anda. Tidak ada batasan kecuali batasan yang Anda terima dalam pikiran Anda sendiri. You are what you think, so mind what you're thinking.

So, apa yang Anda pikirkan pagi ini?

(yap/#perspectivedoesmatter#/adapted from Brian Tracy's Int'l Best Seller "Getting Rich Your Own Way"/photo credit: google)

Kamis, 09 Oktober 2014

"Kelirumologi" soal Uang


Saya meminjam istilah salah kaprah-nya Jaya Suprana; “kelirumologi” bukan tentang logika pembentukan frasa “uang”-nya yang keliru, tetapi dalam hal ini tentang mindset umum dalam masyarakat yang keliru tentang uang. Mengapa mindset yang keliru ini perlu dibongkar? Karena kekeliruan memahami konsep tentang uang ini bisa menjadi semacam mental block yang akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang sehingga sering mengakibatkan kesalahan dalam mengambil keputusan. Akibatnya, kita menjadi terhambat untuk maju, tumbuh dan berkembang.

1.    Mindset ke-1, uang tidak dapat memenuhi semua keinginan.
Orang tua kita menasehatkan ini dengan tujuan agar kita tidak menuhankan uang, tidak mengukur segala sesuatunya dengan uang. Sayangnya, oleh kebanyakan orang nasehat ini dijadikan pembenaran untuk tidak berprestasi dan hidup dengan cara yang biasa-biasa saja, tanpa cita-cita mulia. Untuk apa nguber uang, toh tidak bisa membeli segala-galanya. Ya, tetapi faktanya dengan memiliki uang Anda bisa mendapatkan apa yang ingin Anda beli, membantu lebih banyak orang miskin, yayasan, atau saudara yang membutuhkan, menyekolahkan anak di sekolah terbaik, memberi kehidupan yang layak dan berkualitas bagi anak dan istri serta membahagiakan orang tua Anda. Adakah hidup yang lebih bermakna dari hidup mulia seperti itu?

2.    Mindset ke-2, saya terlalu muda untuk serius memikirkan uang.
“Nanti saja” adalah bentuk penundaan yang sangat berbahaya. Kita justru membuang waktu dengan memiliki mindset ini. Ketika SD kita berharap dan berangan-angan, “Nanti kalau SMP akan belajar lebih giat.” Ketika sudah SMP, ternyata biasa-biasa saja. “Mungkin nanti SMA.” Ketika SMA juga sama, lalu berlanjut kuliah dan kita tetap berangan-angan, “Nanti saja”. Kalau sudah bekerja, kalau sudah beristri, kalau sudah punya anak, dan seterusnya sampai akhirnya ketika pensiun tiba Anda baru tersadar. Apalagi ketika badan sudah mulai lemah dan sakit-sakitan. Yang tersisa hanya penyesalan. Mengapa dulu tidak melakukan ini dan itu. Mengutip Mark Twain, “Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do.”

Sekaranglah saatnya bagi Anda untuk melakukan apa saja, termasuk dalam hal uang di usia muda. Sebagai ilustrasi, jika Anda ingin pensiun dengan tabungan Rp 1 miliar di usia 55 tahun, maka Anda hanya perlu menyisihkan Rp 750.000,- per bulan. Hasil itu bisa Anda dapatkan kalau Anda mulai menabung di usia 25 tahun. Akan tetapi kalau Anda menunda baru mulai menabung pada usia 40 tahun, maka Anda harus menyisihkan Rp 2,5 juta  per bulan (asumsi suku bunga 14% per tahun). “Apakah saya terlambat?” Belum, kalau Anda memulainya sekarang! Ya, sekarang!

3.    Mindset ke-3, jika punya uang lebih banyak, punya kesempatan lebih besar untuk menabung.
Tidak juga! Menabung tidak bergantung pada berapa banyak uang Anda, tetapi pada tujuan Anda. Misalnya, untuk pendidikan anak, menikah, membeli rumah atau mempersiapkan hal-hal lain yang tidak terhindarkan di masa mendatang. Jika Anda menabung setelah penghasilan Anda besar, saya khawatir simpanan Anda akan tetap kosong. Karena kecenderungannya, semakin besar penghasilan Anda, semakin tinggi pengeluaran Anda. Oleh karena itu, berapapun penghasilan Anda, berusahalah untuk menyisihkannya. Caranya? Pay yourself first!


Ilustrasi berikut akan membantu Anda:
Ada dua keluarga, keluarga A dan B, masing-masing bekerja di tempat yang sama, memiliki jabatan dan penghasilan yang sama. 20  tahun mendatang, ternyata keluarga A menjadi keluarga kaya, dan sebaliknya  keluarga B akan menjadi keluarga miskin. Apa pasal? Keluarga A bisa menjadi kaya karena sejak awal menyimpan sebagian penghasilan yang dimilikinya lebih dulu, baru membelanjakan sisanya. Jadi secara ketat keluarga A mencukupkan dana yang sudah mereka alokasikan untuk kebutuhan  belanja setiap bulan. Keluarga B membelanjakan penghasilannya terlebih dahulu, baru menabung sisanya. Apakah ada sisa? Seringnya tentu tidak bersisa. Jika misalnya ada, lalu menaruhnya di bank, apakah akan aman dari kebutuhan lainnya? Hasilnya, 20 tahun kemudian, keluarga B miskin karena tidak memiliki tabungan, sementara keluarga A kaya karena memiliki tabungan yang cukup besar.

4.    Mindset ke-4, mencari uang dengan bekerja (baca: menjadi pegawai)
Bekerja hanyalah salah satu cara untuk mendapatkan uang. Akan tetapi, di sebagian masyarakat kita sekarang, bekerja jenis ini sepertinya masih dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mencari uang. “Kerja dimana?” adalah pertanyaan standar setiap kita bertemu kenalan. Ada teman saya yang kesulitan menjawab karena berprofesi sebagai pemusik. Teman saya yang lain pernah ditolak melamar seorang gadis karena setelah kuliah di universitas ternama hanya buka toko. Sekarang ini, orang-orang yang menekuni bakatnya sebagai profesi justru mempunyai penghasilan yang sangat besar, misalnya pemusik, olahragawan, pelaku industri kreatif, pemberi jasa dan tenaga pemasar.

Status pekerja juga terasa hebat di masyarakat. Sikap ini bagaikan penyakit. Saya punya tetangga yang bekerja sebagai tenaga sukarela di Pemda sampai puluhan tahun dengan harapan bisa diangkat menjadi pegawai negeri. Teman saya merasa hebat bekerja sebagai dosen meskipun pendapatannya “pas-pasan”. Suatu kali dia pernah bertanya kepada tukang sate yang mangkal dekat rumahnya dan betapa kaget dan malunya ketika tahu rata-rata pendapatan tukang sate itu sekitar Rp 300.000,- per hari, bahkan di akhir pekan bisa mencapai Rp 500.000,- Artinya, dia bisa punya penghasilan sekitar Rp 10 jutaan per bulan.

Meskipun kita sekarang menyaksikan mulai muncul pengusaha-pengusaha muda dengan omset miliaran rupiah per bulan, jumlahnya masih sangat sedikit. Karena di pikiran anak muda sekarang adalah sekolah kemudian mencari kerja, sehingga tidak heran jika angka pengangguran terdidik terus membesar. Sebuah negara akan maju dan makmur kalau banyak anak mudanya berprofesi sebagai pengusaha.

5.    Mindset ke-5, tidak perlu khawatir akan hari tua, anak saya pasti mau menanggung.
Setiap anak pasti ingin merawat atau membahagiakan orang tuanya. Akan tetapi kenyataan membuktikan betapa susahnya itu terjadi. Karena sudah punya keluarga sendiri, kesibukan sendiri dan masalah sendiri, anakpun tanpa sadar menjadi kurang perhatian, kurang waktu, kurang uang. Seharusnya kita sendirilah yang mempersiapkan diri untuk bisa tetap mandiri sampai tua.

6.    Mindset ke-6, untuk kaya harus berpendidikan tinggi.
Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Survey di Amerika dan juga terjadi di beberapa negara lain di dunia menyebutkan bahwa para pemilik perusahaan besar justru mereka yang sekolahnya gagal. Kenapa? Mungkin karena merasa tidak pintar, mereka berusaha lebih keras, atau karena mereka lebih dini masuk ke sekolah kehidupan. Hasil survey tersebut menemukan bahwa para pengusaha sukses itu justr kebanyakan mereka yang sekolahnya tidak pintar atau gagal. Sementara mereka yang sekolahnya pintar menjadi karyawan di perusahaan  tersebut, atau menjadi dosen dan peneliti.

Coba Anda cari di Indonesia, siapa konglomerat yang menguasai sebagian besar ekonomi nasional? Betul, mereka adalah orang-orang yang tidak bersekolah tinggi. Sebut saja Liem Siu Liong, Eka Tjipta, Mochtar Riady, pemilik Sampoerna, Djarum, Gudang Garam, Orang Tua Group, dan lain-lain.

7.    Mindset ke-7, untuk menghasilkan uang dibutuhkan modal berupa uang.
Sikap inilah yang menghambat banyak orang untuk terjun ke dunia bisnis. “Tidak punya modal” menjadi momok bagi mereka yang sudah merasa nyaman sebagai pekerja meskipun pada kenyatannya sebagai pekerjapun mereka selalu merasa tidak nyaman karena terus kekurangan. Untuk menghasilkan uang yang dibutuhkan adalah sebuah “ide” atau konsep. Kalau untuk mencari uang Anda lebih dulu memikirkan modal besar baru ide, berarti Anda telat! Selain itu, kalau modalnya ada, biasanya akan langsung habis. Tidak sedikit anak yang bangkrut setelah dimodali orangtuanya.

8.    Mindset ke-8, utang adalah penyakit yang harus dihindari.

Adalah benar jika Anda menghindari utang untuk tujuan konsumtif, tetapi jika Anda berutang untuk kebutuhan produktif dengan pertimbangan yang matang, ketakutan Anda berutang adalah ketakutan Anda untuk maju pesat.

Faktanya, semakin besar perusahaan atau negara, semakin besar pula utangnya. Siapakah pengutang terbesar? Betul, perusahaan-perusahaan raksasa! Negara pengutang terbesar adalah negara yang sangat kuat ekonominya, yaitu Amerika dan Jepang. Jadi, beranilah berutang secara cerdas dan bijak.

9.    Mindset ke-9, orang sukses hampir tidak pernah melakukan kesalahan
Orang sukses justru paling banyak melakukan kesalahan, hanya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Mengapa justru banyak melakukan kesalahan? Karena para pemenang sejati selalu berfikir positif dan ingin meningkatkan target dan mencoba hal baru. Kesalahan adalah cara belajar untuk meningkatkan capaian yang lebih tinggi, lebih efektif, lebih efisien.

Apakah Anda tahu jika Thomas Alfa Edison telah memiliki lebih dari 1000 hak cipta akan penemuannya ? Penemu terbesar Amerika ini memiliki pandangan hidup yang positif luar biasa yang meningkatkan kemampuannya sebagai penemu. Bila orang lain mungkin telah berkecil hati dan putus asa setelah gagal ribuan kali dalam percobaan untuk mengembangkan lampu listrik, Edison dengan sederhana memandang setiap percobaan yang gagal sebagai penyisihan solusi yang tidak berhasil, dengan demikian membawa dia jauh lebih dekat dengan solusi yang sukses. Ketika itu sebuah surat kabar memberitakan di tajuk utamanya bahwa Edison telah gagal 10.000 kali dan akhirnya menemukan lampu pijar. Edison langsung mendatangi kantor berita tersebut dan meminta untuk mengganti headline surat kabar itu. Keesokan harinya sebuah tajuk utama menuliskan, Edison menemukan 10.000 cara yang tidak dibutuhkan untuk menciptakan lampu pijar. Anda bisa merasakan bedanya bukan?

10.  Mindset ke-10, menabung di bank adalah yang terbaik.
Dari sisi perencana keuangan, jumlah uang dalam tabungan hanya disarankan untuk menutupi biaya hidup dan biaya emergency (idealnya 3-6 kali pengeluaran rutin bulanan), sisanya disarankan untuk diinvestasikan dalam instrumen yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi. Dengan cara yang demikian, tingkat pertumbuhan aset akan semakin cepat dibandingkan seluruh uang yang dimiliki di simpan dalam rekening tabungan. Apalagi jika Anda ingin menabung dalam jangka waktu yang panjang.

Kenapa demikian? Dengan menabung di bank, pada saat tertentu nilai uang Anda justru akan menurun. Anda memang mendapatkan bunga, tetapi kecil sekali. Pernahkah Anda tanyakan ke bank berapa bunga tabungan Anda? Dan jika dipotong  biaya administrasi, pajak, kemudian dihitung inflasi, sebenarnya nilai uang Anda susut sekitar 1-2% setiap tahun. Bagaimana dengan deposito? Bunga deposito memang lebih tinggi sekitar 7-10%. Akan tetapi jika dihitung dalam jangka panjang, deposito juga bukan pilihan terbaik.

Sebenarnya jika Anda ingin menabung dalam jangka panjang, investasi adalah pilihan yang tepat. Hasilnya bisa sangat besar. Meskipun demikian, selain memerlukan ilmu dan perhatian yang serius, investasi juga mengandung risiko, meskipun dalam jangka panjang sangat menguntungkan dan bisa dikelola. Jika tidak ingin repot, Anda dapat menyerahkan pengelolaan tabungan Anda pada perusahaan yang professional, hasilnyapun akan besar. Salah satunya, belilah polis asuransi karena lebih menguntungkan. Kenapa? Baca di artikel  saya berikutnya ya, Anda akan mengerti maksud saya.

(yap/adapted from Wira Arjuna’s National bestseller and various sources/photo credit: google)







Minggu, 21 September 2014

3 Langkah Sadar Investasi

Kemanapun tujuan kita, perjalanan harus dimulai dengan satu langkah awal. Untuk mengantar Anda menuju apapun tujuan hari depan Anda, saya persembahkan bukan satu, tapi sekaligus tiga langkah awal: 3i – insyaf, irit, invest.

First “i”: INSYAF
Pertama, Anda harus sadar dulu. Beberapa fakta berikut ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Tapi berhubung banyak dari kita yang masih “denial”, fakta-fakta ini saya sajikan lagi.



  • Anakku, Investasiku. “Sejak kecil, anakku kuberi makan. Supaya kelak bisa memberiku makan.” Trus bedanya sama sapi perah apa?
  • 10 -> 2. “Dulu, satu keluarga bisa punya 10 anak. Kalopun musti nanggung biaya hidup orang tua, masing-masing 10% cukup. Sekarang, tiap keluarga biasanya Cuma punya 2 anak. Kalau musti nanggung biaya hidup orang tua: beraaaaattt!”
  • Nostalgia. “Inget jaman SD, uang jajan 500 perak bisa dapet bakso semangkok plus minum. Sekarang, ninggalin tip 500 perak di restoran dijamin dapet muka cemberut dari waiter.  Faktanya, daya beli uang kita semakin rendah, karena harga barang terus naik. Gampangnya, menurut angka inflasi pemerintah yang rata-rata 7,93% per tahun (data September 2000-Agustus 2013), kalau biaya hidup kita saat ini 10 juta sebulan, sepuluh tahun lagi biaya hidup kita sebulan adalah 21,5 juta!”

Second “i”: IRIT
“Lapar atau ingin makan?” “Perlu telepon atau ngiler lihat gadget terbaru?” “Butuh atau cuma ingin?” Beda!
Tips irit paling penting: belanja harusnya lebih kecil daripada penghasilan.
Irit, banyak caranya:
  • -       Susun anggaran
  • -       Buat daftar belanja
  • -       Jangan malu nawar
  • -       Kalau bisa bekas, kenapa mesti baru?
  • -       Belanja saat perut kenyang
  • -       Belanja bulanan? Jangan bawa anak
  • -       Cook ‘n freeze!
  • -       Bayar kartu kredit tepat waktu
  • -       Bawa bekal ke kantor
  • -       Bawa cemilan supaya nggak perlu jajan
  • -       Ngopi di rumah jangan di café
  • -       Barang generik bisa berkualitas
  • -       Jual barang yang tidak dipakai lagi
  • -       Jadi masterchef di rumah
  • -       Fitness? Mending jogging
  • -       Mix ‘n match baju kantor
  • -       Rawat barang-barang
  • -       Cat rumah: do it yourself
  • -       Atur ulang perabotan biar nggak bosen di rumah
  • -       Mobil kecil aja
  • -       Cuci mobil dirumah
  • -       Isi ban mobil benar, hemat bensin
  • -       Bikin sendiri kado temen
  • -       Ajar anak hidup hemat
  • -       3 lauk? Nggak nambah kenyang, cuma lebih mahal
  • -       Berkebun: liburan gratis + bunga gratis

Irit setiap hari= enteng!
Coba cek, berapa harga kopi di café langganan Anda? Buat sendiri di rumah, segelas nggak sampe Rp 5.000,-. Kebayang nggak berapa penghematan Anda sebulan hanya dengan merubah kebiasaan-kebiasaan kecil?

Third “i”: INVEST
Keuntungan simpan uang di bawah bantal: nggak kena pajak dan biaya administrasi. Sayangnya duit Anda masih digerogoti kenaikan harga, alias inflasi. So, investasi lah!
SELAMAT! Sekarang Anda sudah lebih tahu daripada orang lain. Terus?
  • -       Pay yourself first. Buat prioritas: amankan dulu hari depan, baru yang lainnya. Kalau selama ini kita biasa belanja dulu baru menabung, coba balik urutannya. Mulai sekarang sisihkan dulu untuk investasi, baru belanjakan sisanya.
  • -   Reguler. Berinvestasi secara reguler (misalnya bulanan) menyebabkan kita berinvestasi pada harga yang berbeda-beda, tinggi maupun rendah. Dengan demikian portofolio kita tidak terlalu terekspos pada naik turunnya pergerakan harga pasar. Investasi reguler merupakan strategi yang baik untuk mengembangkan aset dalam jangka panjang.
  • -    Act now! Makin terlambat kita menunda berinvestasi, makin banyak yang harus kita sisihkan dari pendapatan kita untuk mencapai tujuan kita.
  • -       Disiplin! Ngaak susah! Pake aja fasilitas debet otomatis: anti repot, anti lupa.

(yap/adapted from manulife asset management indonesia’s web. photo credit: google)








Senin, 15 September 2014

Bagaimana Berinvestasi?


3 strategi investasi:
Pada umumnya terdapat 3 jenis strategi investasi:
1. Lump Sum (seluruh modal ditempatkan pada suatu waktu)
2. Market Timing (modal dibagi menjadi beberapa satuan kecil dan ditempatkan pada waktu tertentu yang menurut investor menguntungkan, yaitu pada saat harga mengalami penurunan) 
3. Regular Investment (investasi secara rutin tanpa memperhatikan siklus pasar, misalnya setiap bulan pada tanggal gajian) 











Kita lihat bagaimana masing-masing strategi menghasilkan imbal hasil investasi pada masing-masing kondisi pasar.

Ternyata strategi Market Timing memberikan hasil terbaik dibanding strategi-strategi lain pada saat pasar melemah, tetapi memberikan imbal hasil terburuk pada kondisi pasar menguat. Strategi Lump Sum memberikan imbal hasil terbaik dibanding kedua strategi lainnya pada saat kondisi pasar menguat, akan tetapi menjadi strategi terburuk pada dua kondisi pasar lainnya. Kedua strategi ini sayangnya membutuhkan kemampuan dan pengetahuan sangat tinggi untuk dapat menebak dengan jitu siklus apa yang sedang atau akan berlangsung. Selain itu, strategi Lump Sum juga membutuhkan modal yang relatif besar.

Sementara itu, strategi Regular Investing menawarkan potensi imbal hasil terbaik pada kondisi pasar pemulihan, dan tidak pernah menjadi strategi terburuk pada kondisi pasar lainnya. (yap/adapted from Manulife asset management indonesia’s web/ photo credit: google)


Siapa Perlu Berinvestasi?


Semua orang, karena tidak satupun orang terbebas dari efek inflasi, apapun tujuan yang ingin mereka capai melalui simpanan uangnya. Untuk siapa kita berinvestasi?


Ambil contoh, untuk uang pensiun sebesar Rp 1 miliar, lima belas tahun dari sekarang, berikut ini adalah perbedaan jumlah per bulan yang harus kita sisihkan, jika kita menggunakan instrumen deposito dan saham.


Pada tabel di samping, jelas terlihat bahwa pemilihan instrumen investasi sangat menentukan pola menabung kita. Untuk mewujudkan impian jangka panjang – yaitu pensiun dengan kekayaan Rp1 miliar, dengan simpanan pada deposito dengan bunga rata-rata 9% per tahun, per bulan kita perlu menyisihkan sekitar Rp2,6 juta. Sedangkan dengan investasi pada instrumen saham pada periode yang sama – di mana rata-rata imbal hasil adalah 23,52% per tahun, uang yang perlu disisihkan hanya sekitar Rp600 ribu. (yap/adapted from manulife asset management indonesia's web/photo credit: google)

Apa Itu Investasi?

Anda tentu paham mengenai tabungan. Sama dengan tabungan, investasi adalah proses menanamkan sejumlah modal dengan tujuan mendapatkan imbal hasil. Bedanya?


Risiko dan Potensi Imbal Hasil
Kita dapat berinvestasi melalui berbagai instrumen investasi. Masing - masing instrumen investasi memiliki tingkat risiko dan potensi imbal hasil. Prinsip dasarnya: semakin tinggi risiko, semakin tinggi pula potensi imbal hasilnya.


Pada bagan di samping, terlihat pergerakan instrumen deposito yang relatif stabil dibanding pergerakan instrumen investasi, yaitu obligasi dan saham. Pada titik A, di mana pasar mengalami penurunan, instrumen saham dapat mengalami penurunan nilai yang lebih tajam dibanding obligasi. Akan tetapi pada titik B, di mana pasar mengalami kenaikan, instrumen saham dapat memberikan potensi imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibanding instrumen lainnya. (yap/adapted from manulife asset management indonesia's web/photo credit: google)


Kamis, 11 September 2014

Sekarang atau Nanti?


Menunda itu mahal. Gak percaya?

Ambil contoh, kita ingin memiliki uang sejumlah 1 miliar rupiah, sepuluh tahun dari sekarang. Berikut adalah perbandingan jumlah yang perlu disisihkan dari penghasilan bulanan untuk investasi, apabila kita mulai berinvestasi sekarang, 2 tahun lagi atau 5 tahun lagi.


Semakin dini kita mulai berinvestasi, semakin sedikit jumlah yang perlu kita sisihkan untuk mencapai tujuan masa depan kita. Jadi jangan tunda lagi! (yap/adapted from manulife asset management indonesia/photo credit: google)

Rabu, 10 September 2014

Mau Gaya atau Kaya?

Jika Anda bekerja, tentu Anda memiliki penghasilan. Apa saja hal pertama yang Anda lakukan dengan penghasilan tersebut? Belanja? Bayar tagihan kartu kredit? Lalu bagaimana dengan berinvestasi? Pasti hanya kalau ada sisa ya? ;)

Model pengelolaan keuangan seperti ini tentunya tidak menjamin Anda bisa hidup nyaman di masa tua.




Pada pola konsumsi A, “Belanja dulu, sisanya ditabung”, jumlah simpanan tidak dapat ditentukan karena hanya merupakan apa yang tersisa setelah gaji dibelanjakan. Kadang-kadang malah tidak bersisa sama sekali! Dengan jumlah yang tidak tetap, tentunya sulit untuk sampai di tujuan jangka panjang tepat pada waktunya.

Pada skenario B, “Menabung dulu, sisanya dibelanjakan”, pencapaian tujuan jangka panjang dapat diproyeksikan dengan mudah. Jumlah yang teratur setiap bulannya membuat setiap orang mampu mendisiplinkan dirinya pada tujuan keuangan yang telah ditetapkan serta melakukan evaluasi secara berkala.


Jadi, jangan terbalik. Pay yourself first! 
     
"
Ingat perusahaan yang harga sahamnya naik 35% per tahun selama 14 tahun, dari Rp 204 di tahun 1997 ke Rp 7.400 sekarang? Nah, anggap saja Anda memiliki dana Rp 50 juta pada tahun 1997, dan dua pilihan: membeli mobil, atau berinvestasi pada saham perusahaan tersebut. Jika Anda memilih membeli mobil, seiring berjalannya waktu nlai mobil tersebut turun karena terdepresiasi. Belum lagi Anda harus menanggung biaya pemeliharaan yang terus bertambah. Kalau saja Anda berinvestasi pada saham perusahaan tersebut, uang Anda saat ini telah berkembang menjadi Rp 1,8 milyar!  
                                                                              "
 So, belanja dulu atau investasi dulu? ;) (yap/adapted from various sources. photo credit: google)

Nabung Aja Nggak Cukup!

Yakin Kerja Keras Anda Terbayar? Yakin kalau bersakit-sakit dahulu pasti bersenang-senang kemudian? Yakin asset Anda terus berkembang? Yakin simpanan Anda tidak tergerus inflasi?

Tujuan utama dari menabung adalah menumbuhkan asset serta memenuhi kebutuhan masa depan. Pada kenyataannya, instrument simpanan tradisional seperti tabungan atau deposito tidak mampu memberikan imbal hasil yang sanggup menandingi inflasi. Akibatnya, nilai asset akan terus tergerus. Sebagai contoh, dengan tingkat inflasi rata-rata 6% per tahun versus tingkat bunga deposito yang berkisar 5,6% net per tahun jelas tidak cukup menandingi tingkat inflasi. Artinya, jika seseorang menabung pada instrument tradisional tadi, asetnya bukannya berkembang melainkan malah berkurang.

Fakta ini menunjukkan bahwa menabung bukan pilihan terbaik untuk sesuatu yang sifatnya jangka panjang. Jika ingin hidup nyaman di masa depan, orang harus mencari alternative investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari inflasi sehingga nilai asetnya akan bertambah. Pernahkah Anda sadari dalam lima tahun terakhir, ternyata IHSG sanggup memberikan imbal hasil sampai dengan 15,7% net per tahun? Atraktif bukan?

Selama beberapa tahun terakhir, investasi di pasar modal sanggup memberikan imbal hasil yang kompetitif karena ditunjang dengan kondisi ekonomi Indonesia yang baik. Indonesia bahkan sudah masuk peringkat layak investasi. Artinya, Indonesia telah diperhitungkan dalam radar investasi global. Saham yang memiliki fundamental baik tentunya akan terus memberikan imbal hasil yang baik pula. Sebagai contoh, saham suatu perusahaan yang harganya Rp 204 pada tahun 1997 bisa mencapai harga Rp 7.400 per lembar saham, atau tumbuh lebih dari 35% per tahun selama lebih dari 14 tahun terakhir.

Namun banyak orang yang masih takut berinvestasi langsung pada instrumen saham karena fluktuasi yang tajam, dan kurangnya pemahaman mengenai instrumen ini. Sebenarnya terdapat jembatan bagi mereka yang ingin berinvestasi pada pasar modal, yaitu reksadana. Wadah investasi reksadana dapat membantu masyarakat menangkap peluang di pasar modal sebagai alternatif investasi dengan tingkat resiko yang lebih terkendali untuk perencanaan keuangan pribadi agar dapat hidup nyaman di masa depan. (yap/adapted from various sources. sumber data: Bloomberg, data per akhir September 2012)


Kamis, 04 September 2014

Mengapa Berinvestasi?

1.  Adanya keterbatasan atau ketidakpastian atas penghasilan di masa depan
Setiap orang umumnya  pasti akan melalui berbagai fase kehidupan. Sejak masih bergantung kepada orangtua yang membiayai, kemudian memasuki fase usia produktif; fase dimana seseorang sudah memiliki penghasilan sendiri. Fase usia produktif itu terbatas dan akan bergeser ketika seseorang memasuki masa pensiun. Kemudian dilanjutkan fase masa pensiun sampai meninggal dunia yang kita tidak bisa mengetahui kapan. Karena fase masa produktif terbatas, pada fase tersebut seseorang harus mengelola keuangannya dengan bijaksana sehingga pada masa pensiun atau non produktif sudah memiliki dana yang cukup.

2.  Adanya kebutuhan masa depan seperti dana pensiun, pendidikan anak, modal usaha, perjalanan ibadah, warisan, dll.
Kebutuhan masa depan yang semakin lama semakin mahal. Sebagai contoh, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia sebesar 20% per tahun!. Apakah seseorang  yang saat ini masih bekerja memiliki kepastian yang sama akan penghasilannya?  Berapa kenaikan penghasilan paling tinggi setiap tahunnya? Rata-rata kenaikan penghasilan 10% per tahun, ini berarti ketika seseorang bekerja dengan baik maka ada kemungkinan penghasilannya naik 10% per tahun. Namun bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan yang mencapai 20% per tahun. Apakah ketika anak sudah saatnya memasuki usia sekolah maka bisa ditunda 2-3 tahun lagi karena dananya belum cukup? Mengelola keuangan dengan memilih instrumen investasi yang memberikan hasil diatas kenaikan penghasilan per tahun adalah cara yang bijaksana.

3.  Adanya Inflasi
Secara konstan inflasi terus mengikis kekuatan simpanan. Untuk mempertahankan standar gaya hidup di masa pensiun akan sulit jika Anda tidak menghasilkan  pendapatan yang melebihi inflasi. Dibawah ini contoh Ilustrasi sederhana untuk menunjukkan dampak inflasi dari waktu ke waktu.

Dengan uang yang sama sebesar Rp 50.000,-
Tahun
Beras yang dapat dibeli sebanyak
2000
19 kg
2005
13 kg
2010
6 kg
2013
5 kg
*Sumber data: Bulog


Menurut data Bloomberg, rata-rata tingkat inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir adalah 7,01% per tahun. Untuk itu jika Anda menginginkan pendapatan yang tidak kalah dengan inflasi, Anda harus berinvestasi dari sekarang pada instrumen investasi yang memiliki return atau tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari inflasi. (yap/adapted from miwealth.info/photo credit: Google)