Senin, 15 September 2014

Apa Itu Investasi?

Anda tentu paham mengenai tabungan. Sama dengan tabungan, investasi adalah proses menanamkan sejumlah modal dengan tujuan mendapatkan imbal hasil. Bedanya?


Risiko dan Potensi Imbal Hasil
Kita dapat berinvestasi melalui berbagai instrumen investasi. Masing - masing instrumen investasi memiliki tingkat risiko dan potensi imbal hasil. Prinsip dasarnya: semakin tinggi risiko, semakin tinggi pula potensi imbal hasilnya.


Pada bagan di samping, terlihat pergerakan instrumen deposito yang relatif stabil dibanding pergerakan instrumen investasi, yaitu obligasi dan saham. Pada titik A, di mana pasar mengalami penurunan, instrumen saham dapat mengalami penurunan nilai yang lebih tajam dibanding obligasi. Akan tetapi pada titik B, di mana pasar mengalami kenaikan, instrumen saham dapat memberikan potensi imbal hasil yang jauh lebih tinggi dibanding instrumen lainnya. (yap/adapted from manulife asset management indonesia's web/photo credit: google)


Kamis, 11 September 2014

Sekarang atau Nanti?


Menunda itu mahal. Gak percaya?

Ambil contoh, kita ingin memiliki uang sejumlah 1 miliar rupiah, sepuluh tahun dari sekarang. Berikut adalah perbandingan jumlah yang perlu disisihkan dari penghasilan bulanan untuk investasi, apabila kita mulai berinvestasi sekarang, 2 tahun lagi atau 5 tahun lagi.


Semakin dini kita mulai berinvestasi, semakin sedikit jumlah yang perlu kita sisihkan untuk mencapai tujuan masa depan kita. Jadi jangan tunda lagi! (yap/adapted from manulife asset management indonesia/photo credit: google)

Rabu, 10 September 2014

Mau Gaya atau Kaya?

Jika Anda bekerja, tentu Anda memiliki penghasilan. Apa saja hal pertama yang Anda lakukan dengan penghasilan tersebut? Belanja? Bayar tagihan kartu kredit? Lalu bagaimana dengan berinvestasi? Pasti hanya kalau ada sisa ya? ;)

Model pengelolaan keuangan seperti ini tentunya tidak menjamin Anda bisa hidup nyaman di masa tua.




Pada pola konsumsi A, “Belanja dulu, sisanya ditabung”, jumlah simpanan tidak dapat ditentukan karena hanya merupakan apa yang tersisa setelah gaji dibelanjakan. Kadang-kadang malah tidak bersisa sama sekali! Dengan jumlah yang tidak tetap, tentunya sulit untuk sampai di tujuan jangka panjang tepat pada waktunya.

Pada skenario B, “Menabung dulu, sisanya dibelanjakan”, pencapaian tujuan jangka panjang dapat diproyeksikan dengan mudah. Jumlah yang teratur setiap bulannya membuat setiap orang mampu mendisiplinkan dirinya pada tujuan keuangan yang telah ditetapkan serta melakukan evaluasi secara berkala.


Jadi, jangan terbalik. Pay yourself first! 
     
"
Ingat perusahaan yang harga sahamnya naik 35% per tahun selama 14 tahun, dari Rp 204 di tahun 1997 ke Rp 7.400 sekarang? Nah, anggap saja Anda memiliki dana Rp 50 juta pada tahun 1997, dan dua pilihan: membeli mobil, atau berinvestasi pada saham perusahaan tersebut. Jika Anda memilih membeli mobil, seiring berjalannya waktu nlai mobil tersebut turun karena terdepresiasi. Belum lagi Anda harus menanggung biaya pemeliharaan yang terus bertambah. Kalau saja Anda berinvestasi pada saham perusahaan tersebut, uang Anda saat ini telah berkembang menjadi Rp 1,8 milyar!  
                                                                              "
 So, belanja dulu atau investasi dulu? ;) (yap/adapted from various sources. photo credit: google)

Nabung Aja Nggak Cukup!

Yakin Kerja Keras Anda Terbayar? Yakin kalau bersakit-sakit dahulu pasti bersenang-senang kemudian? Yakin asset Anda terus berkembang? Yakin simpanan Anda tidak tergerus inflasi?

Tujuan utama dari menabung adalah menumbuhkan asset serta memenuhi kebutuhan masa depan. Pada kenyataannya, instrument simpanan tradisional seperti tabungan atau deposito tidak mampu memberikan imbal hasil yang sanggup menandingi inflasi. Akibatnya, nilai asset akan terus tergerus. Sebagai contoh, dengan tingkat inflasi rata-rata 6% per tahun versus tingkat bunga deposito yang berkisar 5,6% net per tahun jelas tidak cukup menandingi tingkat inflasi. Artinya, jika seseorang menabung pada instrument tradisional tadi, asetnya bukannya berkembang melainkan malah berkurang.

Fakta ini menunjukkan bahwa menabung bukan pilihan terbaik untuk sesuatu yang sifatnya jangka panjang. Jika ingin hidup nyaman di masa depan, orang harus mencari alternative investasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dari inflasi sehingga nilai asetnya akan bertambah. Pernahkah Anda sadari dalam lima tahun terakhir, ternyata IHSG sanggup memberikan imbal hasil sampai dengan 15,7% net per tahun? Atraktif bukan?

Selama beberapa tahun terakhir, investasi di pasar modal sanggup memberikan imbal hasil yang kompetitif karena ditunjang dengan kondisi ekonomi Indonesia yang baik. Indonesia bahkan sudah masuk peringkat layak investasi. Artinya, Indonesia telah diperhitungkan dalam radar investasi global. Saham yang memiliki fundamental baik tentunya akan terus memberikan imbal hasil yang baik pula. Sebagai contoh, saham suatu perusahaan yang harganya Rp 204 pada tahun 1997 bisa mencapai harga Rp 7.400 per lembar saham, atau tumbuh lebih dari 35% per tahun selama lebih dari 14 tahun terakhir.

Namun banyak orang yang masih takut berinvestasi langsung pada instrumen saham karena fluktuasi yang tajam, dan kurangnya pemahaman mengenai instrumen ini. Sebenarnya terdapat jembatan bagi mereka yang ingin berinvestasi pada pasar modal, yaitu reksadana. Wadah investasi reksadana dapat membantu masyarakat menangkap peluang di pasar modal sebagai alternatif investasi dengan tingkat resiko yang lebih terkendali untuk perencanaan keuangan pribadi agar dapat hidup nyaman di masa depan. (yap/adapted from various sources. sumber data: Bloomberg, data per akhir September 2012)


Kamis, 04 September 2014

Mengapa Berinvestasi?

1.  Adanya keterbatasan atau ketidakpastian atas penghasilan di masa depan
Setiap orang umumnya  pasti akan melalui berbagai fase kehidupan. Sejak masih bergantung kepada orangtua yang membiayai, kemudian memasuki fase usia produktif; fase dimana seseorang sudah memiliki penghasilan sendiri. Fase usia produktif itu terbatas dan akan bergeser ketika seseorang memasuki masa pensiun. Kemudian dilanjutkan fase masa pensiun sampai meninggal dunia yang kita tidak bisa mengetahui kapan. Karena fase masa produktif terbatas, pada fase tersebut seseorang harus mengelola keuangannya dengan bijaksana sehingga pada masa pensiun atau non produktif sudah memiliki dana yang cukup.

2.  Adanya kebutuhan masa depan seperti dana pensiun, pendidikan anak, modal usaha, perjalanan ibadah, warisan, dll.
Kebutuhan masa depan yang semakin lama semakin mahal. Sebagai contoh, rata-rata kenaikan biaya pendidikan di Indonesia sebesar 20% per tahun!. Apakah seseorang  yang saat ini masih bekerja memiliki kepastian yang sama akan penghasilannya?  Berapa kenaikan penghasilan paling tinggi setiap tahunnya? Rata-rata kenaikan penghasilan 10% per tahun, ini berarti ketika seseorang bekerja dengan baik maka ada kemungkinan penghasilannya naik 10% per tahun. Namun bagaimana dengan kenaikan biaya pendidikan yang mencapai 20% per tahun. Apakah ketika anak sudah saatnya memasuki usia sekolah maka bisa ditunda 2-3 tahun lagi karena dananya belum cukup? Mengelola keuangan dengan memilih instrumen investasi yang memberikan hasil diatas kenaikan penghasilan per tahun adalah cara yang bijaksana.

3.  Adanya Inflasi
Secara konstan inflasi terus mengikis kekuatan simpanan. Untuk mempertahankan standar gaya hidup di masa pensiun akan sulit jika Anda tidak menghasilkan  pendapatan yang melebihi inflasi. Dibawah ini contoh Ilustrasi sederhana untuk menunjukkan dampak inflasi dari waktu ke waktu.

Dengan uang yang sama sebesar Rp 50.000,-
Tahun
Beras yang dapat dibeli sebanyak
2000
19 kg
2005
13 kg
2010
6 kg
2013
5 kg
*Sumber data: Bulog


Menurut data Bloomberg, rata-rata tingkat inflasi di Indonesia selama 5 tahun terakhir adalah 7,01% per tahun. Untuk itu jika Anda menginginkan pendapatan yang tidak kalah dengan inflasi, Anda harus berinvestasi dari sekarang pada instrumen investasi yang memiliki return atau tingkat pengembalian yang lebih tinggi dari inflasi. (yap/adapted from miwealth.info/photo credit: Google)

Tips Berinvestasi

Mengelola keuangan tentu bukanlah hal yang mudah. Jangankan berpikir mengenai investasi, merencanakannya saja terkadang tak terbayangkan. Lantas, bagaimana cara mudah untuk merencanakan dan mengelola keuangan agar penghasilan tidak hilang tanpa jejak, dan Anda bisa memiliki investasi? 

Untuk berinvestasi tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai dan mengelola keuangan. Biasanya berapapun uang yang kita hasilkan, kita pasti cenderung memiliki keinginan untuk menghabiskannya. Dan faktanya, tidak semua orang bisa mengatur keuangan mereka dengan baik. Padahal, jika direncanakan sejak sekarang, maka yang akan dirasakan adalah momen indah ketika Anda sudah tua atau pada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti resiko kehidupan atau resiko finansial.

Sebelum berinvestasi ada 4 (empat) hal yang perlu dipertimbangkan, karena ini akan berpengaruh kepada produk keuangan yang Anda pilih, dan pilihan Anda akan menentukan tingkat kesuksesan dalam mewujudkan impian yang Anda miliki.

  1. Tujuan & Jangka Waktu  
    Menentukan apa dan kapan tujuan dari investasi sangat berpengaruh terhadap pilihan investasi dan tingkat hasil investasi yang Anda inginkan. Contoh : Mempersiapkan dana pensiun, berarti anda berinvestasi dalam jangka panjang untuk kebutuhan pada saat pensiun. Tipsnya adalah hitung kapan Anda akan memasuki usia pensiun lalu dikurangi dengan usia sekarang. Hasilnya adalah jangka waktu yang anda butuhkan untuk berinvestasi dalam mempersiapkan kebutuhan pensiun.
  2. Hasil & Risiko
    Hasil investasi yang tinggi mengandung resiko investasi yang tinggi. Sebaliknya, hasil investasi rendah mengandung resiko investasi rendah. Tipsnya pahami dengan cermat semua produk keuangan yang Anda beli. Dan belilah produk keuangan yang Anda pahami! Misalnya saham merupakan salah satu instrumen keuangan yang paling berisiko, namun dalam jangka panjang memberikan potensi keuntungan yang paling tinggi. Hal ini sangat umum di dunia investasi, jika Anda ingin hasil maksimal maka risiko pun tinggi begitupun sebaliknya.
  3. Likuiditas 
    Kemudahan untuk mengubah investasi menjadi tunai atau mudah untuk diuangkan ini berkaitan dengan tujuan kita. Tipsnya adalah pilih instrumen investasi yang mudah diuangkan tepat pada saat dibutuhkan. Contohnya saja Sertifikat deposito lebih mudah diuangkan dibandingkan investasi langsung di properti.
  4. Pajak
    Pilihan investasi akan mempengaruhi besarnya pajak yang dikenakan dari hasil investasinya. Pada setiap instrumen ada ketentuan pajak. Misalya pajak atas bunga deposito adalah 20%, kalau properti 10%. Khusus untuk produk unit link Anda tidak akan kena pajak diatas 3 tahun. (yap/adapted from miwealth.info/photo credit: Google)
     

Masa Pensiun Tiba. Siapkah Anda?

Kehidupan pensiun seperti apa yang Anda inginkan? Bisa mengajak cucu Anda berjalan-jalan ke tempat menyenangkan dan membelikannya hadiah-hadiah, atau berlibur bersama pasangan kemanapun tempat yang Anda inginkan dan menikmati makanan enak di restoran atau kafe? Sudah cukupkah tabungan Anda untuk melakukan itu?

Menyiapkan dana pensiun tentu tidak mudah karena Anda harus berhadapan dengan berbagai kebutuhan saat ini dengan biaya yang cukup tinggi, sementara Anda harus menyisihkan dana untuk kepentingan 20 hingga 30 tahun ke depan. Namun, apabila itu tidak dilakukan sedini mungkin, pada akhirnya Anda akan terus dibebani dengan masalah kebutuhan keuangan keluarga pada masa pensiun atau hari tua.

Setidaknya ada tiga faktor penting yang harus Anda pahami ketika menyiapkan dana pensiun.
(1)  Faktor inflasi dan tingkat suku bunga karena biaya hidup setiap tahun pasti meningkat. Inflasi dan besarnya tabungan Anda belum tentu cukup untuk masa mendatang.

(2)  Kedua, perkiraan besarnya biaya hidup Anda per tahun saat pensiun nanti. Anda dapat mengalikan biaya kebutuhan hidup per tahun saat ini dengan rata-rata inflasi setiap tahun. Sebagai contoh, jika usia Anda saat ini 35 tahun dan pengeluaran rata-rata Anda sebesar Rp 25 juta per tahun, maka prediksi biaya hidup Anda pada usia 55 hingga 60 tahun ialah Rp 80 hingga 100 juta per tahun dengan asumsi inflasi sebesar 6% per tahun.

(3)  Faktor ketiga ialah resiko. Hal yang tidak dapat kita perkirakan dan kita duga, yaitu resiko yang dapat menimpa kita sehingga kita tidak produktif lagi, seperti resiko sakit, kecelakaan, cacat, bahkan kematian yang dapat mengancam investasi rutin Anda.

Dengan melihat ketiga faktor tersebut, Anda sebaiknya harus menyiapkan dana pensiun dari sekarang. Jika perusahaan tempat Anda bekerja memiliki dana pensiun lembaga keuangan (DPLK), pastikan Anda ikut berpartisipasi karena itu menguntungkan. Namun, lebih baik lagi jika Anda juga bisa merencanakan dana pensiun Anda sendiri, salah satunya melalui produk dana pensiun sekaligus asuransi jiwa. Melalui produk dana pensiun asuransi jiwa, Anda akan terkondisi untuk mendisiplinkan diri dalam hal menabung secara rutin melalui pembayaran premi setiap tahun. Keuntungan lainnya ialah Anda sekaligus mendapatkan manfaat proteksi dari segala faktor risiko, seperti sakit, kecelakaan, hingga kematian di kemudian hari. 
Ilustrasi:



Untuk kenyamanan hidup Anda pada hari tua, segeralah tentukan pilihan. Milikilah  program investasi yang dirancang khusus untuk merencanakan dan mengelola investasi dana pensiun agar tersedia kesinambungan penghasilan yang optimal pada usia pensiun. (yap/adapted from Pride Magz/photo credit: Google)